Warga Afghanistan Kehilangan Pendapatan, 18 Persen Keluarga Kirim Anaknya Bekerja

- 17 Februari 2022, 11:41 WIB
Anak Afghanistan yang sedang melakukan protes di UAE
Anak Afghanistan yang sedang melakukan protes di UAE /Dok. REUTERS/

SEPUTARTANGSEl.COM - Sejak Taliban berhasil berkuasa menduduki Afghanistan, bantuan internasional telah berhenti masuk bahkan aset Afghanistan di luar negeri dibekukan. Hal ini membuat profesi buruh anak menjadi pilihan yang harus di tempuh.

Berdasarkan survei yang dilakukan Save the Children, 18% Keluarga telah mengirim anak-anaknya untuk bekerja, diperkirakan lebih dari 1 juta anak bekerja.

Banyak anak-anak yang bekerja di rumah tangga, pasar bahkan di jalanan, upah yang mereka dapatkan pun tidak sebanding dengan harga makanan yang melonjak naik.

Baca Juga: Minta Dunia Tolak Akui Pemerintahan Taliban, Diplomat Afghanistan Buat Pernyataan Bersama

Dikutip SeputarTangsel.Com dari laman savethechildren.net pada Kamis, 17 Februari 2022, Survei tersebut dilakukan di 7 Provinsi yang memuat 1.400 rumah tangga dimana 82% kehilangan pendapatan.

Keluarga yang tinggal di perkotaan paling terpukul, setengah dari keluarga di Kabul telah kehilangan seluruh pendapatkan mereka.

Pekan lalu, Save the Children telah mewawancarai Laila (12) yang telah ditinggal ayahnya dan harus tinggal dengan ibu dan keempat saudaranya di kampung pengungsian.

Baca Juga: Dunia Sambut Permintaan PBB untuk Beri Bantuan Kepada Afghanistan  

Ia bekerja membersihkan rumah dengan upah yang setara sekitar 10 sen Dolar perhari.

“Saya akan bekerja dari pagi hingga sore hari. saya akan kembali dengan membawa pulang 10 Afghani (0,10 dolar amerika) dan membeli teh untuk keluarga saya” Ujar Laila.

Baca Juga: PBB Masih Cari Bantuan untuk Cegah Krisis Kemanusiaan di Afghanistan, China dan Pakistan Gerak Cepat  

Selain Laila, kakak perempuannya yang baru berusia 15 tahun harus ikut bekerja untuk menghidupi adik-adik mereka.

Musim dingin ini, 14 juta anak diperkirakan menghadapi tingkat kelaparan yang mengancam jiwa dan tingkat kekurangan gizi melonjak. Anak-anak di Afganistan terancam penyakit radang paru-paru yang menjadi penyebab kematian satu dari lima anak disana.***

Editor: Dwi Novianto


Tags

Terkait

Terkini