Hari Tahanan Palestina, Lebih dari 4.400 Warga Ditahan Pihak Israel Tanpa Diadili

18 April 2022, 05:41 WIB
samira al-Hajj Ahmad, salah seorang yang anaknya dipenjara Israel dalam peringatan Hari Tahanan Palestina. /Foto: Al Jazeera/ Mohammed Salem//

SEPUTARTANGSEL.COM - Ketegangan antara warga Palestina dan pasukan Israel pasca penyerangan di Komplek Masjid Al Aqsa masih berlangsung.

Meskipun demikian, ketegangan tersebut tidak mengurangi antusiasme warga memperingati Hari Tahanan Palestina, 17 April 2022.

Hari Tahanan Palestina diperingati di berbagai wilayah yang diduduki dengan aksi unjuk rasa. Salah satunya di seberang markas Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Baca Juga: Polisi Israel Lukai Ratusan Warga Palestina di Masjid Al Aqsa, Hamas: Kekerasan Akan Dibalas Kekerasan

Para pengunjuk rasa pada Hari Tahanan Palestina melakukan aksi sebagai solidaritas kepada mereka yang berada dibalik jeruji Israel. Mereka menuntut Israel segera membebaskan warga Palestina yang ditahan.

Saat ini diketahui lebih dari 4.400 warga Palestina ada di balik jeruji Israel. Bahkan, lebih dari 500 di antara mereka adalah perempuan dan anak-anak di bawah umur. 

Mereka ditahan di 'penahanan administratif' tanpa dakwaan atau diadili dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.

"Penderitaan putra-putra kami di penjara-penjara Israel terus berlanjut. Mereka menerima kondisi yang sulit dan perlakuan kasar para sipir," ujar Samira al-Hajj Ahmad, salah seorang yang anaknya berada di tahanan sebagaimana dikutip SeputarTangsel.Com dari Al Jazeera, Minggu 17 April 2022.

Baca Juga: Bentrokan Warga Palestina dan Polisi Israel di Kompleks Masjid Al Aqsa, 152 Orang Terluka

Samira sudah bergabung dengan protes Hari Tahanan Palestina selama 17 tahun terakhir.

Putranya, Raed al-Hajj Ahmad ditahan di Haftha, sebuah penjara di wilayah Naqab (Negev) Israel.

Dia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada tahun 2004.

"Bunga masa muda anak saya dipenjara. Dia baru berusia 20 tahun ketika ditahan, sekarang dia berusia 38 tahun," lanjut Samira.

"Setiap bulan Ramadhan kami merindukannya di meja buka puasa. Hidup kami tidak terasa tanpa dia," ungkap Samira.

Sementara itu, Fatima al-Ziq yang kini berusia 52 tahun dan pernah dipenjara mengatakan, masalah tahanan harus menjadi prioritas utama bagi kepemimpinan Palestina dan faksi politik.

Baca Juga: 150 Warga Palestina Terluka Diserang Pasukan Israel, Fadli Zon: Tak Ada Kecaman dari Negara Barat Seperti...

"Dari pengalaman masa lalu, saya menjalani hari-hari tersulit di penjara Israel. Layanan penjara menggunakan semua tindakan penyiksaan psikologis dan fisik terhadap kami," kata Fatima.

"Kebijakan perampasan kunjungan keluarga, kurungan isolasi, dan penahanan administratif masih digunakan terhadap narapidana," tambah Fatima.

Fatima sendiri merupakan contoh perempuan Palestina yang ditahan tanpa dakwaan dan diadili. 

Dia ditangkap pada bulan Mei 2007 ketika hamil dua bulan di persimpangan Beit Hanoun (Erez).

Tuduhan yang diberikan kepadanya adalah mencoba melakukan serangan di Israel.

Baca Juga: Warga Palestina Bunuh 3 Orang di Tel Aviv, PM Israel Izinkan Pasukannya Kebebasan untuk Bertindak

Tanpa kepastian waktu penahanan, akhirnya Fatima melahirkan putranya Yousef di penjara. 

Pada tahun 2009 Fatima dan Yousef dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan antara Israel dan Hamas, faksi Palestina yang menguasai Gaza.***

Editor: Dwi Novianto

Tags

Terkini

Terpopuler