Budiman Sudjatmiko Sebut Afghanistan Terjebak Fanatisme Kesukuan dan Keagamaan

- 20 Agustus 2021, 06:15 WIB
Politisi PDI Perjuangan (PDIP), Budiman Sudjatmiko, menyinggung kejatuhan Afghanistan ke genggaman Taliban sebagai fanatisme kesukuan dan fanatisme keagamaan.
Politisi PDI Perjuangan (PDIP), Budiman Sudjatmiko, menyinggung kejatuhan Afghanistan ke genggaman Taliban sebagai fanatisme kesukuan dan fanatisme keagamaan. /Foto: Instagram @budiman_sudjatmiko/

SEPUTARTANGSEL.COM - Politisi PDI Perjuangan (PDIP), Budiman Sudjatmiko, menyinggung kejatuhan Afghanistan ke genggaman Taliban baru-baru ini.

Budiman Sudjatmiko menyebut Afghanistan adalah negara yang terjebak dalam tribalisme atau fanatisme kesukuan.

Budiman Sudjatmiko juga menyebut Afghanistan adalah negara yang fanatis terhadap kelompok keagamaan.

Baca Juga: Presiden Ashraf Ghani Disebut Bawa Sejumlah Uang Saat Tinggalkan Afghanistan, Begini Pengakuannya

"Tentang sebuah bangsa yang terjebak dalam tribalisme (fanatisme kesukuan), sektarianisme (fanatisme kelompok keagamaan) dan kelas menengah yang gagap," ujar Budiman Sudjatmiko, dikutip SeputarTangsel.Com dari akun Twitter @budimandjatmiko pada, Kamis, 19 Agustus 2021.

Budiman menjelaskan, selain Afghanistan, Lebanon juga pernah mengalami hal, akan tetapi Lebanon sudah berhasil melewatinya.

"Lebanon pernah terjebak ini. Mereka lelah. Apakah orang Afghanistan punya rasa lelah juga berkonflik dari 1973-2021?" ujar Budiman.

Baca Juga: China Dukung Kekuasaan Taliban di Afghanistan, Mustofa Nahrawardaya: Apa Nggak Takut Jadi Mualaf Semua?

Budiman menambahkan, Lebanon pernah menjadi negara yang maju, khususnya di bidang industri pariwisata. Sedangkan Afghanistan belum jadi negara yang modern.

"Tapi beda dengan Afghanistan yang belum jadi negara modern, Lebanon pernah maju industri jasanya. Terutama pariwisata. Hingga Beirut dijuluki Paris dari Timur," jelas Budiman Sudjatmiko.

Akan tetapi menurut Budiman, konflik yang terjadi di daerah Timur Tengah membuat kondisi Lebanon ruwet.

"Tapi konflik Israel vs Arab, Syiah vs Sunni, Kristen vs Islam, Palestina vs Lebanon, dan Suriah vs Lebanon bikin ruwet," ujar Budiman.

Baca Juga: China Nyatakan Dukungan untuk Taliban, Mustofa Nahrawardaya: Afghanistan Tidak Punya Trauma dengan Komunis

Budiman menjelaskan, negara-negara Timur Tengah pada akhirnya lelah dengan konflik yang terjadi, dan mereka belajar untuk berdamai dan terjadi kestabilan.

"Tapi mereka lelah usai Perang Saudara meletus 1975, Israel menginvasi 1982. 1990-an mereka pun memilih damai dengan sisa-sisa ketegangan politik. Akhirnya masuk abad 21 stabil. Mereka lelah, mereka belajar," ujar Budiman.

Politisi PDI Perjuangan tersebut pun menyampaikan harapannya agar Afghanistan bisa fokus cari ilmu dan cari rezeki.

"Afghanistan, kamu harus bisa! fokus cari ilmu dan cari rejeki!," ujar Budiman.***

Editor: Sugih Hartanto


Tags

Terkait

Terkini