Eks Investigator KNKT Menduga Jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182 Bukan Karena Faktor Cuaca

- 13 Januari 2021, 20:03 WIB
Sejumlah pejabat di antaranya Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staff Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono, Kepala Basarnas Marsekal Madya Bagus Puruhito, dan Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono saat menunggu kedatangan FDR oleh tim penyelam yang dibawa dengan KRI Kurau menuju, JICT 2, Selasa, 12 Januari 2021. /Pikiran Rakyat/Amir Faisol/

SEPUTARTANGSEL.COM - Penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Rute Jakarta-Pontianak di Kepulauan Seribu, Jakarta pada 9 Januari 2021 lalu masih diselidiki KNKT.

Mantan investigator senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Frans Wenas, menduga penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 bukan karena cuaca buruk sebagai faktor tunggal. Dia mensinyalir ada faktor tambahan lain, salah satunya problem pada pesawat yang berusia 26 tahun itu.

Hal ini dikuatkan dengan permasalahan yang ditunjukkan dengan tidak menyalanya emergency locator transmitter atau ELT.

Baca Juga: Derita Warga Palestina di Tanah Sendiri, Ditindas Pemukim Liar Israel

Baca Juga: Arif Budiman Dipecat dari Ketua KPU Dianggap Tidak Bisa Menempatkan Diri

"Sriwijaya ini sedang kesulitan keuangan, otomatis safety dari pesawat itu sendiri terdampak yang menyebabkan aspek keamanan mungkin berkurang drastis. Meski pesawat laik, perlu dipertanyakan mengapa ELT tidak berfungsi," ujar Frans, Rabu 13 Januari 2021.

Menurut laporan ATC Bandara Soekarno-Hatta, Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tidak memancarkan sinyal ketika hilang kontak pada menit ke-empat setelah lepas landas dari pada Sabtu, 9 Januari lalu. Pesawat rute Jakarta-Pontianak ini diketahui mengalami kecelakaan jatuh di sekitar perairan Pulau Lancang dan Pulau Laki setelah terbang di ketinggian 10.900 ribu kaki dan ketinggian terakhir pesawat  terdeteksi di ketinggian 250 kaki.

Menurut Frans, insiden kecelakaan pesawat Sriwijaya Air hampir mirip dengan kejadian pesawat PT Adam Air yang jatuh di Selat Makassar, 1 Januari 2007 lalu. Kala itu, kecelakaan  pesawat Adam Air 574 disebabkan oleh faktor cuaca dan rusaknya sistem navigasi inersia atau IRS.

"Jadi faktor cuaca turut menjadi contributing, bukan faktor utama. Musim hujan memang rawan kecelakaan, apalagi ditambah dengan fitur pesawat yang mengalami kerusakan," tutur Frans yang dulu menjadi investigator dalam kecelakaan Adam Air 2007 silam.

Halaman:

Editor: Fandi Permana


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X